Puisi ini menggambarkan perlawanan dari setangkup perasaan yang bercampur aduk akibat kegagalan dari suatu proses yang cukup lama. Proses yang diawali dengan penuh keyakinan dan dedikasi namun pada akhirnya didapat hasil yang jauh dari keinginan.
Ubah!
Gelap.
Langit begitu gelap
Malam ini
Meski ditaburi bintang-bintang
Namun mataku tak melihatnya
Mataku gelap
Gelap, segelap otakku
Otakku yang tanpa isi
dari awal tercipta
Sesal.
Hanya itu yang bisa dirasa saat ini
Meski hidup dari lama
hingga kini
Seiring berjalannya waktu
yang telah dihamburkan
untuk kepuasan tak bermakna
Namun,
Rasa itu usah disimpan
Rasa itu usah didekap
Lontarkan!
Lontarkan jauh-jauh rasa tanpa guna itu!
Cuma ada satu kata pengganti
Ubah!
Sunday, July 31, 2011
Tuesday, July 19, 2011
Rintik Hujan di Mata Ibu
Hujan
Turun perlahan
Bintik demi bintik
Jatuh ke Bumi
Membasahi wajah Ibu Pertiwi
Seiring dengan turunnya
air mata sang Ibu
Air mata yang mengalir
Oleh kesedihan hati
Sebab tingkah anak-anaknya
yang serakah
yang tamak
yang tak acuh atas nasib sang Ibu
Ego,
materi,
syahwat,
mereka di luar kendali
bahkan mengendalikan syaraf-syaraf tubuh sang anak
yang tak berbenteng
yang tak bertameng
rapuh layaknya hati sang Ibu
Namun dia tetap tak peduli
meski itu dirinya sendiri
Ibu
Usahlah bersedih
Bertahanlah hingga akhir hayat
Kelak, dirimu tersenyum
melihat mereka di alam kekal
Arafat, 20-07-11
Saturday, July 16, 2011
Tersembunyi Penuh Makna
satu kata
dua kata
tiga kata
disusun menjadi suatu kalimat
yang berkesinambungan
dan dikumpulkan
dalam bait-bait
sedemikian rupa
sehingga lahir
sebuah karya
yang memiliki berjuta arti
di dalamnya
dua kata
tiga kata
disusun menjadi suatu kalimat
yang berkesinambungan
dan dikumpulkan
dalam bait-bait
sedemikian rupa
sehingga lahir
sebuah karya
yang memiliki berjuta arti
di dalamnya
Subscribe to:
Posts (Atom)